Salah satu perkataan yang beredar dan menjadi keyakinan tentang Allah Azza Wa Jalla, Rabb tempat kita menyembah dan meminta adalah keyakinan bahwa Allah ada di hati kaum mukminin.
Barangkali, yang menjadi dasar adalah bunyi hadist berikut ini;
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam;
"Ya Rasulullah, dimanakah Allah, apakah di langit atau dibumi?"
(Jawab beliau): (Allah) berada di setiap hati orang mu'min.
Sebelum berbicara tentang derajat dari hadits ini, keyakinan bahwa Allah ada di dalam hati, menyalahi ayat-ayat dalam Al Qur'an dan hadits-hadits yang shahih, yang menyatakan bahwa Allah beristiwa' diatas Arsy'Nya (yakni diatas langit).
“Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istawaa" (Thaha : 5)
Dan ayat-ayat Al Qur'an lainnya.
Nah, sekarang mari kita melihat pembahasan hadits yang menyatakan Allah ada di setiap hati orang mukmin tersebut, bagaimanakah derajatnya, shahihkah atau justru maudhu' (palsu)?
Walhasil, saya kutipkan dari kitab berjudul Hadits-Hadits Dho'if Dan Maudhu' karya al ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, saya temukan pembahasannya.
ALLAH ADA DIHATI
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam;
143. Artinya: "Ya Rasulullah, dimanakah Allah, apakah di langit atau dibumi?"
(Jawab beliau): (Allah) berada di setiap hati orang mu'min.
TIDAK ADA ASALNYA. Saya (pengarang kitab) berkata: Riwayat diatas sama sekali tidak ada asal usulnya yang merupakan riwayat dusta atau hadits palsu yang orang palsukan atas nama Nabi yang mulia Shallallahu alaihi wasallam. Riwayat palsu diatas saya dengar dengan kedua telinga saya dibawakan oleh seorang yang bernama KH Syafruddin atau Syaifuddin Safari pada mimbar Agama Islam di TVRI tanggal 21-6-1990 tanpa menerangkan siapa perawinya. Riwayat palsu diatas tegas-tegas telah menentang Al Qur'an dan As Sunnah yang telah menegaskan Tuhan kita Allah Azza Wa Jalla berada di atas langit yakni bersemayam di atas
Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaanNya. Masalah ini telah saya (pengarang kitab) luaskan di kitab Al Masaa'il jilid 1 masalah 8. Diantaranya riwayat shahih dibawah ini:
Artinya: Beliau bertanya kepada budak perempuan itu, "Dimanakah Allah?"
Jawab budak perempuan,"Di atas langit."
Beliau bertanya lagi,"Siapakah aku?"
Jawab budak perempuan,"Engkau adalah Rasulullah."
Beliau bersabda,"Merdekakan dia! Karena sesungguhnya dia seorang mu'minah (perempuan yang beriman)."
Shahih riwayat Muslim.
Sekian kutipan.
Nah, dari pembahasan diatas jelas, bahwa keyakinan bahwa Allah ada di dalam hati kita, adalah keyakinan yang salah, yang benar adalah bahwa Allah bersemayam di atas Arsy'nya di langit sana, dengan segala kemuliaan dan kebesaranNya.
Mudah-mudahan, ini berguna untuk anda dan saya. Amiin
hehehe... memaknai ayat itu ada dua muhkamat dan musytasyabihat. dhahir dan bathin. belajar agama di mulai dari awal yang nampak dulu baru bathin. Tuhan itu meliputi segalanya.. kenapa kalau ada di hati engkau menafikkan? Hati itu ada dua makna, hati dhahir dan hati bathin.. bukan hati dhahir saudaraku tapi hati bathini... Jangan engkau bawa kaum awam tetap dalam keawamannya, naikkan kesadaran mereka baik fikiran maupun jiwanya. Hadis itu lebih dari 300.000 an yang disortir menjadi 8000an, kenapa harus mencampakkan kebenaran yang kita tidak tahu?
qs 2:186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: "Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?" Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu'awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)
Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW: "Dimanakah Tuhan kita?" (Diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)
Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: "Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman "Ud'uni astajib lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?" Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir yang bersumber dari Ali.)
Menurut riwayat lain, setelah turun ayat "Waqala rabbukum ud'uni astajib lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 186) (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari 'Atha bin abi Rabah.)